Jaringan teror baru rasa lama

Dita Oepriarto dan Puji Kuswat terlihat seperti pasangan suami istri biasa. Hidup mereka tentram. Terlihat tak banyak masalah. Empat anaknya, dua putra dan dua putri, mereka juga tumbuh bahagia. Menjadi anak soleh dan soleha. Apalagi kerap mengikuti orangtuanya beribadah.

Bagi warga sekitar, Dita dikenal sebagai penjual obat herbal. Tidak ada sikap aneh. Dia dicap ramah. Kepada semua tetangga. Juga rajin ibadah. Termasuk kepada Puji, istrinya. Semua warga dekat kediamannya juga beranggapan demikian.

Sampai pada Minggu, 13 Mei 2018. Ada sikap berbeda ditunjukan keluarga ini. Mereka menangis. Berpelukan bersama empat anaknya usai salat subuh di musala dekat rumah. Kejadian itu diketuai keamanan setempat. Tidak ada buruk sangka ketika itu.

Hingga pukul 7 pagi, peristiwa tidak disangka terjadi. Dita bersama istri serta mengajak empat anaknya mengebom bunuh diri di tiga gereja wilayah Surabaya. Mereka dibagi tiga tim. Dua anak laki-laki, Puji dan dua anak perempuannya dan aksi solo Dita.

Bom pertama meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya sekitar pukul 6.30 pagi. Setelah itu bom meledak di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro pada pukul 7.15 pagi. Terakhir disusul ledakan di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno pada jam 7.53 pagi. Dita dan keluarganya tewas. Akibatnya banyak korban tewas juga dari jemaah gereja.

Peristiwa serupa juga terjadi pada malam harinya. Kali ini bukan gereja sebagai sasarannya. Sekitar jam 9 malam, ledakan itu terjadi di sebuah rusunawa kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam peristiwa itu, tiga terduga pelaku teror tewas, yaitu terduga pelaku teroris bernama Anton beserta istrinya, Puspita Sari, dan anak pertamanya. Istri dan anaknya tewas akibat ledakan. Sedangkan Anton tewas ditembak polisi karena melawan dan mengancam akan meledakkan bom lagi.

Dari serangkaian peristiwa itu, kami lalu menemui Sofyan Tsauri. Dia mantan anggota polisi dan pernah terlibat dalam jaringan teroris Al Qaeda Asia Tenggara. Bahkan sempat divonis 10 tahun penjara setelah terbukti terlibat. Namun, dia kini sudah bertobat. Sadar. Selama ini tindakannya salah.

Sofyan dikenal pernah berdinas sebagai Polisi Sabhara Aceh. Pada saat di sana, dia terpapar pemahaman radikal Aman Abdurrahman dan kemudian bergabung jaringan terorisme. Lalu dia menjadi pemasok senjata untuk latihan para militer di Jantho, Aceh pada 2010.

Sofyan lolos dari Aceh dan ditangkap di rumahnya di Bekasi pada 6 Maret 2010. Setelah menjalani proses hukum, dia dituntut sepuluh tahun penjara. Dia sudah menjalani enam tahun penjara. Sekarang bebas lantaran beberapa kali mendapat remisi.

Dalam kacamata Sofyan, terlihat bahwa jaringan teror di Surabaya merupakan kelompok lama dengan rasa baru. Dia melihat ini di bawah komando Jamaah Ansharut Khilafah (JAKI). Digerakkan oleh Kholid Abu Bakar. Nama ini juga masuk daftar orang paling dicari kepolisian. Namun, kepolisian menyebut ini dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Kalau yang JAKI ini merupakan jaringan dari kelompok-kelompok lama yang di jemaah lamanya tidak mendapatkan tempat,” ujar Sofyan kepada kami di kediamannya kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, sepekan lalu.

Mantan teroris Sofyan Tsauri 2018 Merdeka.com

Dua kelompok itu punya perbedaan khas. Mereka memiliki cara masing-masing dalam melakukan aksi teror. Sehingga Sofyan meyakini bahwa insiden di Surabaya dilakukan kelompok lama dengan rasa baru.

Tidak hanya di situ. Sofyan juga mempunyai pandangan sendiri mengenai peran perempuan dalam ikut melakukan aksi teror. Dia melihat tiap peran para kaum hawa ini penting terutama untuk menyokong tiap gerakan aksi teror. Berikut wawancara jurnalis merdeka.com Angga Yudha Pratomo, Anisyah Alfaqir dan Zut Atsari dengan Sofyan Tsauri.

Peristiwa teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu sangat tragis. Pelaku rela mengajak anak dan istri. Apa pesan yang Anda tangkap dari kejadian ini?

Berbicara tentang bom Surabaya kita tidak bisa melepaskan dari pada peristiwa di Mako Brimob pada saat itu yang terjadi pada tanggal 8 Mei. Pada waktu malam kerusuhan itu memang banyak instruksi untuk melakukan amaliyat di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk memecah konsentrasi aparat keamanan atau Densus 88 kepada Mako Brimob.

Instruksi tersebut adalah untuk memecah konsentrasi kepolisian dan mereka menyerang dari luar, ada yang menyerang dari dalam. Nah ini kemudian memicu aksi-aksi selanjutnya, menjadikan rencana-rencana yang sudah mereka buat mau tidak mau harus segera dipercepat dan diaborsi sehingga muncullah peristiwa bom Surabaya dan Sidoarjo yang dilakukan oleh tiga keluarga.

Dari situlah kemudian terjadi kejadian aksi yang terjadi di Surabaya. Yang menarik adalah ternyata di sana melibatkan anak-anak dan perempuan sebagai media untuk melakukan serangan dan ini merupakan hal yang pertama kali di Indonesia, walaupun sebetulnya aksi-aksi yang melibatkan wanita itu sudah mulai ada ketika ada yang disebut sebagai black widow atau janda-janda hitam.

Kalau di Aceh dikenal dengan istilah Inong Balek, yaitu suami-suami yang memang korban konflik lalu kemudian ahli warisnya hendak melakukan amaliyat. Walaupun dari 500 operasi amaliyat yang ada di Irak dan Suriah itu juga melibatkan anak-anak tapi tidak sesering yang dilakukan oleh laki-laki, ada beberapa. Lalu kemudian ini menjadi sebuah tren di Indonesia.

Menurut Anda, kenapa gereja kembali menjadi sasaran para pelaku teror setelah sebelumnya lebih sering menyerang polisi?

Gereja ini (dalam pemahaman kelompok teroris) kan simbol kekafiran. Mereka mungkin kalau menyerang kantor polisi dan sebagainya, cenderung diperdebatkan secara kehalalannya dalam tinjauan hukum dan yuridisnya. Tapi kalau gereja, orang kafir resistensinya kecil. Itulah yang saya rasa motivasinya, kenapa mereka kembali menargetkan gereja.

Bukannya tren teroris menyerang gereja itu sudah lama sekali dilakukan?

Ya, terakhir tahun 2000-an pas malam Natal itu juga efek dari peristiwa Ambon. Makanya ini kemudian kita menekan bahwa ada kelompok lama dengan kelompok baru dengan ISIS hari ini. Di situ seperti ada missed ada pertukaran ideologi, teknologi dan sebagainya sehingga dilihat kenapa gereja menjadi target. Karena ini melibatkan kelompok lama yang kita ketahui bahwa simpul dari kelompok Surabaya ada Khalid Abu bakar, seorang deportan dari Turki ke Indonesia.

Khalid Abu Bakar ini sebetulnya termasuk Jamaah Islami (JI) pada saat itu. Beliau sering mengadakan taklim dan pengajian dan ketiga pelaku ini rutin menghadiri majelis.

Benarkah bahwa Khalid Abu Bakar ini bukan masuk daam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) melainkan Jamaah Anshor Khilafah (JAKI)?

Kalau saya menyebutnya JAKI bukan JAD. Karena kalau JAD cirinya jelas cuma menggunakan golok, pisau dapur, sangkur. Dua ramadan kemarin kan menggunakan amaliyat pisau di Medan, satu orang meninggal satu orang masih selamat walaupun luka-luka.

Memang secara kelompok bedanya JAD sama JAKI ini apa?

JAD ini kan jaringannya Aman Abdurahman, ada yang newbie. Sedangkan kalau yang JAKI ini merupakan jaringan dari kelompok-kelompok lama yang di jemaah lamanya tidak mendapat tempat. Mereka banyak berasal dari lulusan Filipina, Afganistan yang di parkir oleh JI akhirnya mereka bergabung dengan kelompok baru yang disebut dengan Jamaah Anshor Khilafah (JAKI) ini.

Secara jalur mereka ini beda secara historis dan secara ideologi juga memang sudah berbeda.

Anda disebut pernah satu pengajian dengan Khalid, bagaimana sosok tersebut?

Bukan satu pengajian jadi saya mengenal Khalid ketika saya diundang oleh PSM Handayani pada bulan Januari 2017 waktu dia baru dideportasi dari Turki ke Indonesia. Saya mengenal beliau dan saya sempat ngobrol dengan Khalid Abu bakar dan sepertinya kalau saya melihat dia tidak disukai oleh Jamaah Anshor Daulah karena dia cenderung rasionalis. Jadi orang rasionalis ini cenderung orang-orang mutazilah oleh kelompok JAD sehingga dia enggak disukai.

Kedua dia ahli mantik. Jadi memang tersebar beliau ini memang ahli mantik jadi jago berdebat, selalu menghubungkan sesuatu semua dengan akal dan itu membuat JAD di Turki jaringannya yang mereka kelola memang tidak suka, mulai geram dengan yang dilakukan oleh Khalid Abu bakar ini. Dan dia cerita sendiri kepada saya seperti itu. Sepertinya di kalangan jamaah ISIS di Indonesia ini memang terpecah-pecah, sistemnya memang dia tidak suka dengan kelompok-kelompok yang disebut takfir ini. Makanya saya melihat berbeda karena memang ideologi.

Jadi apakah dalam dalam insiden di Surabaya ini merupakan kelompok JAKI?

Ya, kelompok yang melakukan adalah JAKI.

Memang kelompok ini seperti apa?

Ya, sebetulnya kelompok baru, nama organisasi yang baru tapi dengan orang-orang yang lama.

Ada anggapan lebih mudah mendoktrin perempuan dan anak-anak untuk melakukan aksi teror. Memang kondisinya aslinya itu seperti apa?

Pertama, wanita ini nisfu akil artinya pemikirannya setengah lebih menggunakan perasaan daripada akalnya. Makanya kenapa mereka disuruh urus anak-anak, karena kalau laki-laki lebih menggunakan logikanya. Dan di sinilah kalau dia ditanamkan suatu paham, perempuan ini gampang baper. Tidak kuasa untuk menolak dari pemahaman suaminya.

Makanya kalau wanita dalam terminologi, dalam kelompok khawarij atau takfir itu memang lebih militan daripada laki-lakinya dan dia akan gunakan bisa jadi dengan kecantikannya, menggunakan kelemahannya, mereka sering didevert dan dikotafsi oleh kelompok-kelompok yang ingin menggunakan wanita sebagai media untuk operasi-operasi mereka. wanita tidak kuasa untuk menolak hal itu.

Kedua, wanita adalah kelompok yang memang menurut saya kalau dia sudah tertanam sebuah nilai, dia hilang untuk melepaskannya.

Anda bisa lihat itu ketika dalam percakapan-percakapan di Facebook, sosmed. Wanita-wanita kelompok ini itu lebih militan dari laki-lakinya, sangat dahsyat dan sangat masif. Mereka ini sangat sulit untuk berubah.

Lalu bagaimana dengan doktrin kepada anak-anak?

Ya itu yang pertama wanita, kedua kenapa anak-anak? Melibatkan anak-anak itu sebenarnya suatu pengkaburan juga karena dengan melibatkan anak-anak orang mengira tidak akan mungkin orang ini mengorbankan anaknya. Tapi apa yang kita pikirkan tidak mampu, mampu-mampu saja, masuk akal saja bagi kalangan kelompok-kelompok ini.

Kedua, melibatkan anak-anak ini sebetulnya penanaman doktrin atau penanaman sebuah nilai memang orangtua kepada anaknya. Karena mereka bisa saja didoktrin ‘Yuk mari kita masuk surga sama-sama’. Kan ada hadis menyebut seseorang itu akan dipertemukan bersama orang yang dicintainya ketika di hari kiamat. Nah, mereka ini meyakini orang-orang ini bahwa mereka akan dikumpulkan sama-sama nanti di surganya Allah. Inilah motivasi kuat.

ketiga, kalau boleh dikatakan kelompok ini dalam teori-teori ilmu sosial termasuk orang-orang mesianistik. Adalah orang-orang yang terpapar dengan pemahaman akhir zaman. sebetulnya pemahaman mesianistik ini bukan cuma dikalangan Islam tapi dikalangan yahudi, nasrani juga kuat. Di kalangan yahudi mereka bahkan, jikalau mereka tinggal di Australia kalau mereka meninggal mereka mau dikuburkan ke daerah Syam, dikembalikan ke Israel karena itu tanah Syam, karena mereka menganggap ada keutamaan kalau meninggal di sana.

Nah kajian-kajian amargedon dalam kalangan nasrani juga sama, menjadikan Yerussalem sebagai tempat favorit dia, bahkan dia ingin mati di sana karena ada anggapan nanti di hari kiamat orang-orang akan dibangkitkan dari sana. Kita lihat juga dikajian-kajian kristen, kalangan mesianistik ini ada bunuh diri massal juga. Kakeknya, siapanya, menyebut dunia ini hanya fana, dia ini sampah, tempat yang paling hakikat hakiki adalah surga, akhirat. Akhirnya dia membenci dunia. Kelompok ini juga ada bunuh diri massal, tapi tidak melukai orang lain, hanya keluarganya sendiri. Tapi cucu, anak semua disuruh minum racun karena untuk menuju kebahagiaan medianya harus mati dulu. maka kematian ini harus mereka tempuh untuk mereka sama-sama di surga.

Nah orang-orang ISIS ini orang mesianistik. Makanya mereka paling suka, mereka berbondong-bondong untuk masuk ke Syam, Suriah, mereka pengen mati di sana. [ang]


Warning: Use of undefined constant rand - assumed 'rand' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /srv/users/serverpilot/apps/weightlosstoday/public/wp-content/themes/bloggie/single.php on line 48

ADD YOUR COMMENT